Jatuh cinta adalah hal yang sangat menyenangkan bagi orang-orang yang pernah merasakan indahnya jatuh cinta. Saat si dia mulai menyapa, hati terasa begitu ceria. Dunia terasa milik berdua. Namun tidak semua kisah asmara selalu berakhir bahagia. Ada yang harus berpisah di tengah jalan setelah menjalin hubungan yang cukup lama. Dunia terasa terbelah dua.

Lalu bagaimana jika hal itu terjadi pada hubungan kita? Bagaimana cara kita menyikapinya?

Tetap Tenang

Mazmur 116: 7 mengatakan “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu.”

Putus cinta memang tidak enak. Banyak anak muda yang menangis tersedu-sedu dibuatnya. Tidak jarang diantara mereka yang histeris saat menerima kenyataan pahit. Namun, Alkitab mengatakan, tetaplah tenang, jiwaku. Putus cinta bukanlah suatu perkara yang sangat besar sehingga kita tidak mampu menghadapinya. Ambil napas yang dalam, dan berpikirlah positif. Saat Tuhan izinkan lelaki/wanita itu meninggalkanmu, pasti Tuhan akan berikan pengganti yang jauh lebih baik.

Bersyukur

1 Tesalonika 5: 18 mengatakan “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Bersyukur dalam keadaan sedih / kesulitan memang tidak mudah. Namun, bersyukur adalah hal yang dikehendaki Tuhan untuk dapat kita lakukan. Jika pasangan kita memutuskan untuk pergi, mungkin saja itu adalah tanda bahwa ia adalah pasangan yang tidak baik untukmu. Maka dari itu, tetaplah bersyukur. Semua yang terjadi ada dalam kendali Tuhan.

Berdoa

1 Tesalonika 5 : 17 mengatakan “Tetaplah berdoa.”

Kita harus tetap berdoa sekalipun keadaan kita sedang sedih. Dengan berdoa kita bisa sampaikan segala keluh kesah kita kepada Tuhan. Minta kekuatan untuk menghadapinya dan minta Tuhan untuk membimbing kita dalam memilih pasangan yang tepat, yang sesuai kehendakNya.

Bersukacita

1 Tesalonika 5: 16 mengatakan “Bersukacitalah senantiasa.”

Bersukacita di saat hati kita remuk? Bisa! Suka cita yang sejati tidak datang karena keadaan sekeliling kita. Suka cita sejati datangnya dari Tuhan. Apabila kita dengan sungguh hati berdoa, beribadah, dan mengiring Dia dengan setia. Damai sejahteranya akan selalu ada bersama kita bagaimanapun keadaan hati kita. Sehingga kita dapat selalu menemukan suka cita di dalam Tuhan.

Percaya

Yesaya 55: 8 – 9 mengatakan “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Rancangan dan jalan Tuhan berbeda dari rancangan dan jalan kita. Mungkin hal itu dapat membuat kita merasa, “mengapa Tuhan tidak mengizinkan aku bahagia bersamanya?” Tapi percayalah bahwa Tuhan selalu ingin kita bahagia. Tapi bahagia menurut kebenaran-Nya, bukan menurut hawa nafsu kita.

Tuhan adalah Tuhan yang luar biasa baiknya. Sekalipun masalah dan persoalan dalam hidup kita datang silih berganti, namun Tuhan tidak pernah berubah. Dia tetap Allah yang menyertai kita. Saat pasangan kita tidak setia, Tuhan tetap setia. Oleh karenanya, percaya bahwa Tuhan pasti akan berikan jodoh yang sepadan untuk kita, saat kita mau tetap bersungguh-sungguh untuk mengiring Tuhan.