Mohammad Subhan adalah seorang pelatih dan koreografer untuk parkour freerun dan freestyle basketbal. Subhan merasakan mukjizat dalam kehidupannya melalui anaknya yang bernama Kairos.

“Kairos itu artinya waktu Tuhan,” Kata Subhan

Kairos anak Subhan yang berumur 3 tahun di vonis mengidap Leukimia Limfositik akut alias Acute Lymphocytic Leukimia (ALL).  Kairos tidak mempunyai harapan hidup waktu itu, dokter yang menanganinya pun tidak bisa memastikan apakah Kairos akan sembuh.

Hati Subhan merasa hancur saat melihat anaknya tergeletak tak berdaya akibat Leukimia, saat Subhan mendampingi Kairos di rumah sakit dia membuka Alkitab namun tidak bisa membaca karena pikirannya sedang kacau.

“Tetapi ada sesuatu di sini (sambil memegang dadanya) bilang begini : kamu mau nyanyi enggak Subhan buat saya? saya bilang, dalam kondisi seperti ini Tuhan.. saya harus bernyanyi buat Tuhan?”  Ujar Subhan

Akhirnya Subhan bernyanyi, lagu inilah yang keluar dari mulut Subhan,

“Biarlah manis Kau dengar Tuhan, manis Kau dengar Tuhan.”

Namun kenyataannya tidak semanis lagu yang Subhan lantunkan, dalam kondisi seperti itu, Subhan tidak bisa memikirkan hal lain lagi karena pikirannya sedang kacau.

“Disamping anak saya ada anak orang India, anak itu meninggal. Jadi kami tinggal tunggu giliran meninggal. Menunggu anak giliran meninggal itu nggak enak,” ujarnya

Subhan memprotes Tuhan dalam hatinya, kenapa kejadian ini harus menimpa anaknya. Namun, Tuhan tetap menyuruh Subhan untuk bernyanyi.

“Tapi tetap ada perkataan dalam hati saya. nyanyi Subhan…. Nyanyi.

Diapun menyanyi lagi, namun tetap Subhan tidak bisa sepenuh hati menyanyikannya. Namun Tuhan tetap menyuruhnya untuk bernyanyi, lalu Subhan bernyanyi lagi.

“Karya terbesar, dalam hidupku… karya terbesar? No!” kata Subhan

“Tapi Tuhan tetap menyuruh saya bernyanyi, suara itu audible sekali,” tambahnya

Meskipun tengah dalam kondisi sedih, Subhan tetap berusaha memuji Tuhan. Lalu Subhan dan istrinya bergandengan tangan dan mulai berserah kepada Tuhan dan berseru:

“Tuhan kami serahkan anak kami Kairos di dalam tangan Yesus,” ujarnya

Mendengar perkataan Subhan dan istrinya, para dokter dan perawat yang menangani Kairos pun kaget dan heran.

“saya tau. Mungkin secara biologis Kairos adalah anak kami, tapi ini anak-Mu Tuhan kami serahkan kepadamu,” ucap Subhan

Namun perintah Tuhan tetap sama, Dia tetap menyuruh Subhan untuk bernyanyi, lalu keluar lagi satu nyanyian dari mulut Subhan,

“Bersama-Mu Bapa.. ku lewati semua,

perkenanan-Mu yang teguhkan hatiku,

Engkau yang bertindak.. memberi pertolongan,

Anugerah-Mu besar, melimpah bagiku.”

Namun pujian yang dinaikkan Subhan tersebut tidak membuat kondisi Kairos membaik, selanjutnya perut Kairos membengkak dan Kairos berkata kepada Subhan, “Papa sakit”

Dengan hati yang remuk, Subhan harus bilang, “Kairos kuat.”

“Kami tidak bisa nangis di depan anak kami,” ujar Subhan

Karena menjalani kemoterapi, rambut Kairos sedikit demi sedikit rontok dan akhirnya menjadi botak. Mulutnya pun harus mengeluarkan darah setiap hari karena bekas luka dari transfusi darah. Transfusi darah Kairos di pindah ke mulut karena tangannya sudah remuk akibat bekas luka transfusi darah selama dia di rawat di Belanda.

Namun Tuhan tetap meminta Subhan untuk bernyanyi dan memuji nama-Nya.

“Proses yang kita lewati, membuat kita semakin dewasa, Kairos telah menghadapi banyak kemoterapi, namun suatu saat dokternya bilang Kairos melewati  “bad day” nya saat melakukan kemoterapi.  Kairos mengatakan “nei papa, nei… Kairos sudah sembuh.” Dokter bilang itu bad day nya Kairos? Saya bilang No! itu Kairos bertemu Yesus,” ujar Subhan

Setelah 4,5 bulan dokter meminta persetujuan Subhan untuk mengambil sample sumsum tulang belakang milik Kairos. Dan setelah 1 jam berlalu, dokter kembali dan berkata “pak virus leukimianya tinggal 1%.”

Namun Subhan tidak percaya, dia menelpon Istrinya dan menceritakan hal itu, selang beberapa menit dokter datang kepada Subhan dan meminta persetujuan untuk melakukan tes ulang karena ternyata dokter pun ragu dengan hasil tes yang pertama.

1 jam kemudian dokter menghampiri Subhan dan berkata,

“Pak, virus leukimianya tinggal 0%.”

Mukjizat-Nya dinyatakan kepada Kairos dan mulai saat itu rambutnya mulai tumbuh, badannya pun bertambah segar. Kairos sangat bahagia hingga mengajak semua orang di gereja untuk menari. Dia tau siapa yang menyembuhkan dia, yaitu api yang asalnya dari Yesus. Kairos juga sudah melakukan aktivitas sehari-harinya dengan sangat baik di Belanda.

“Pesan yang Tuhan mau kasih, apa yang berharga di mata manusia siapa pun dia, itu yang mau Tuhan ambil. Karena Tuhan mau kasih tau Yesus lah yang paling berharga dalam hidup manusia. Kenapa situasi kami tidak berubah saat kami mengalami hal itu? Karena Tuhan mau mengubah sikap hati manusia terlebih dahulu lalu situasinya.” Ucap Subhan

Mukjizat Tuhan ada bagi setiap orang percaya. Heroes, jangan pernah meragukan kuasa Tuhan. Dia mampu melakukan segala sesuatu.