Bagaimana Pandangan Kristen Mengenai Transgender?

transgender

Akhir-akhir ini banyak orang bicara soal transgender. Tahukah kamu apa itu transgender? Transgender adalah suatu kondisi dimana seseorang memiliki ekspresi gender (jenis kelamin) yang berbeda dengan seks yang dimilikinya. Mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi fisik kelaminnya lalu mengubah kelaminnya menjadi sama dengan lawan jenisnya.

So, hal ini menjadi perdebatan banyak pihak. Lantas bagaimana seharusnya orang Kristen memandang hal ini? Ada 5 hal penting yang harus selalu diingat umat Kristen soal transgender.

Ketidaksetujuan dengan transgenderism bukan berarti menyangkal rasa sakit akibat disforia gender

Banyak yang kontra dengan transgenderisme. Para pengidap transgender telah ditolak diberbagai belahan masyarakat. Orang-orang yang menderita disforia gender mengalami tekanan emosi. Mereka mengalami suatu perasaan bahwa identitas gender mereka tidak sejalan dengan seks biologis mereka. Mereka sebenarnya tidak menginginkan itu terjadi dalam diri mereka.

Mereka telah terjebak dengan hal yang menyakitkan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mereka perlu tahu bahwa kita, umat Kristen mencintai mereka walaupun sebenarnya kita tidak setuju dengan mereka. Kita berikan telinga kita untuk mendengarkan curhatan mereka dan kita berikan hati untuk memahami rasa sakit yang mereka hadapi.

Pria tak bisa jadi wanita dan wanita tak bisa jadi pria

Para transgender sering menganggap bahwa mereka benar-benar bisa menjadi wanita dan sebaliknya. Mereka mempunyai kata sapaan yang berganti menyerupai wanita padahal dia pria, seperti nama Santo lalu berubah menjadi Santi. Tak sedikit pula yang operasi jenis kelamin. Masalahnya, hal-hal yang mereka lakukan tersebut percuma. Kromosom pria tidak dapat direkayasa menjadi kromosom wanita, dan sebaliknya.

Tindakan mengubah penampilan dengan jalan memakai kosmetik atau pembedahan tidak bisa mengubah realitas susunan biologis seseorang yang sudah digariskan Tuhan. Transgender memaksa orang untuk percaya kebohongan dan menyalahi kodrat manusia. Kebenaran tidak dapat dimutlakkan manusia karena hanya Sang Pencipta yang memiliki kehendak untuk memutlakkan kebenaran.

 Alkitab Menyediakan Kerangka Pemahaman Revolusi Transgender

Alkitab telah menjelaskan mengapa orang mengalami perasaan disforia gender. Ciptaan Tuhan telah berubah dan akhirnya tercipta dalam Penciptaan Baru (Kejadian 3; Roma 8; Wahyu 21). Semua bagian dalam keberadaan manusia di alam semesta dapat terganggu oleh efek dosa.

Setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Namun manusia berjuang pada keinginan dan pikiran menurut pengertiannya sendiri. Tidak semua identitas atau perasaan harus diterima karena efek bercampurnya hasrat buruk dan baik. Kisah penciptaan, kejatuhan dosa, dan penebusan meyakinkan manusia bahwa hasrat tidak akan menghasilkan keutuhan sejati. Manusia dapat menemukan jati diri sejati mereka dengan mengakui Tuhan yang telah menyelamatkan dan memulihkannya.

Perdebatan Transgender Mempertanyakan “Apakah Pria Dan Wanita Maupun Ibu Dan Ayah Benar-Benar Nyata?”

Jika menjadi pria atau wanita ditentukan oleh pikiran atau kehendak seseorang, itu berarti tidak ada sifat pria dan wanita sejati. Keduanya hanya menjadi sebuah konstruksi pada stereotip budaya. Menghapus makna biologis dari pria dan wanita sejati akan menghancurkan kehendak Tuhan dalam eksistensi manusia, bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain dan bagaimana anak-anak mengetahui perbedaan antara ibu dan ayah.

Umat Kristen Membutuhkan Keyakinan dan Belas Kasihan dalam Debat tentang Transgender

Transgender penuh dengan kontroversi. Individu akan mendapati diri mereka dalam ketidaksepakatan dengan teman, kerabat, maupun rekan kerja. Saat kondisi itu, umat Kristen membutuhkan keberanian untuk mempertahankan visi sejati pada pemahaman Alkitabiah bahwa manusia diciptakan menurut gambar-Nya. Hindari perdebatan!

Kita hanya perlu terus mengatakan bahwa Tuhan menciptakan kita dan membuat ultimatum siapa kita. Tuhan Yesus tidak bertujuan untuk memenangkan perdebatan. Dia selalu berusaha mengasihi semua manusia. Jadi sebagai pengikutnya, kita sudah selayaknya mengikutinya. Ketika kita berbicara tentang keyakinan dalam Firman Tuhan tentang transgender yang mutlak tidak berubah dan sempurna, kita harus melandasinya dengan kasih.

Like This!
Berikan Komentar

Trending

To Top