Mengenal Charles Spurgeon, Pengkhotbah Besar Dengan Kata-Kata Sederhana

charles-spurgeon

London, 1856. Banyak orang memasuki Exeter Hall, sebuah tempat pertemuan yang bisa menampung 10.000 orang. Besar, kecil, tua dan muda rela antri untuk mendapatkan tempat duduk. Bagi yang tidak mendapatkan tempat duduk rela berdiri untuk mendengarkan seorang anak muda berusia 22 tahun berbicara tentang Tuhan Yesus Kristus. Kata-katanya sederhana, lugas dan langsung pada intinya, tidak berhiaskan kata-kata indah seperti para pengkhotbah di zamannya.

Khotbahnya mengambil contoh sehari-hari dan membawa pendengarnya semakin mengerti dan dekat Tuhan. Saat itu, ia adalah pengkhotbah paling terkenal di Inggris. Khotbah-khotbahnya diterbitkan dan mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat. Hingga meningalnya 35 tahun kemudian, ia telah menerbitkan 3.600 khotbah dan 49 volume tulisan rohani.

Charles Spuregon lahir si Essex, Inggris dari keluarga pelayan Tuhan pada 19 juni 1834. Hidupnya akbrab dengan khotbah, nyanyian rohani dan buku-buku rohani terkenal di zamannya.

Dalam perjalanan untuk menemui seseorang badai salju menerpanya, sehingga ia harus masuk pada sebuah gereja. Di situ ia mendengar tentang keselamatan dan menyerahkan dirinya pada Kristus. Usianya 15 tahun pada saat itu.

charles-spurgeon

Kemudian  Charles pindah ke Cambridge, mengajar Sekolah Minggu dan mulai berkhotbah. Pada usia 20 tahun ia dipanggil untuk melayani di gereja Baptis terbesar di Inggris yang berada di London. Dari sana kemudian ia bertumbuh menjadi pengkhotbah terkenal di zamannya, dengan karunia suara keras ia mampu menjangkau ribuan pendengar, karena pada saat itu belum ada microphone.

Charles menikah dengan Susannah Thompson pada tahun 1856 yang dikaruniai anak kembar. Di masa akhir hidupnya, ia menderita rematik dan beberapa penyakit yang menyebabkan ia tidak bisa melakukan pelayanan. Dalam keadaan depresi, ia berusaha mencari Tuhan dan menemukan hikmat kebenaran dalam kesengsaraan yang ditulisnya. Lewat tulisannya banyak orang terberkati dan mengubah cara pandang banyak orang tentang sebuah penderitaan.

Saat ia meninggal pada tahun 1892 yakni pada usia 57 tahun, ratusan ribu orang ikut mengantar. Bahkan semua toko dan restoran ditutup sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Like This!
Berikan Komentar

Trending

To Top