Advertising

Breaking News

Funky But Holy

Secara historis, gaya funky merujuk pada awal tahun 1970-an yang mana istilah ini muncul dari perkampungan kumuh orang kulit hitam Amerika. Secara etimologis, “Funky” merupakan kata sifat dari kata funk (bau busuk). Di tengah suasana yang ngga menyenangkan karena kumuh, tertekan, miskin, dan muram, mereka mengekspresikannya dengan cara mendengarkan musik yang iramanya menyenangkan dengan berpakaian gemerlap atau mahal.

Seiring dengan berkembangnya zaman makna funky bergeser menjadi positif, yaitu semerbak harum. Ngga heran kalo kemudian banyak anak muda pengen tampil funky supaya disebut gaul. Misal, rambut dicat warna-warni, berjaket hitam ketat, bertindik, hingga tubuh yang ditato.

Sebagai anak muda, tentu menjadi kebanggaan tersendiri kalo kita disebut gaul. Namun, apakah gaulnya anak Tuhan harus kayak penjabaran diatas? Tentu aja ngga harus, karena sebagai anak Tuhan, kita harus memperhatikan nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, yang mana dalam bergaul dengan sesama, baik itu orang percaya atau bukan, kita harus mengedepankan kekudusan. Boleh sih berpenampilan gaul, jika itu masih dalam koridor kekristenan kita.

Dengan mengedepankan kekudusan hendaknya cara bicara kita, gaya hidup kita, kasih kita, keyakinan kita, dan hidup kita yang suci lebih penting dari penampilan. Jangan sampe bertutur kata sia-sia, mengendepankan egosentris, bergaya hidup bebas, dan bertindak seenaknya.

Gimana dengan kehidupan Sobat selama ini, apakah kamu masih sering melakukan suatu hal yang bertolak belakang dengan nasihat Rasul Paulus pada nats hari ini? Kalo ya, yuks minta Tuhan agar mengubahkan kita menjadi pribadi yang lebih baik. Jadilah berkat bagi sesama melalui cara hidup kita yang sesuai firman-Nya. Ingat, kita membawa identitas “anak Tuhan”. Jangan cemarkan identitas tersebut dengan tindakan yang ngga berguna.

No comments