Advertising

Breaking News

Jangan Latah Setelah Ibadah

Tiap hari Senin, dulu para penyortir wol (bulu domba) sering tertimpa penyakit. Awalnya, mereka mengidap alergi. Namun kini serangan asmanya kumat tiap kali masuk kerja, setelah liburan sabtu dan minggu. Setelah terbebas dari sesak napas selama liburan, mereka harus sesak napas lagi pada hari Senin sehingga tiap hari Senin tiba mereka selalu berteriak ”I hate Monday”.

Sekarang realitas yang jadi istilah ini udah mendunia, sehingga banyak dari kita latah alias ikut-ikutan benci sama hari Senin. Menurut KBBI, salah satu arti latah adalah meniru-niru sikap, perbuatan atau kebiasaan orang atau bangsa lain.

Padahal, sebelum Senin tiba, kita harus menguduskan Sabat. Kata Shabbat (Ibr) berasal dari kata kerja shabat (berhenti). Dengan demikian, Sabat berarti berhenti bekerja (istirahat). Saat istirahat, sesungguhnya, kita ngga benar-benar istirahat karena saat itu kita harus menyediakan waktu untuk beribadah.

Menurut tradisi Yahudi, saat Sabat tiba kita harus merayakannya bersama keluarga dekat, pergi ke sinagog untuk berdoa, membaca, mempelajari, dan mendiskusikan Torah dan tafsirannya. Sebaliknya, berdasarkan Trakat Sabat Mishnah 7 : 2, ada 39 kegiatan yang dilarang selama Sabat.

Lima di antaranya adalah menabur, membajak, menuai, mengikat berkas gandum, membuang sampah. Namun, karena proses historis, bapa-bapa gereja memindahkan peringatan Sabat (Sabtu; hari ketujuh) ke Minggu (hari pertama). Hasilnya, konsep istirahat pada hari Minggu digunain hampir di seluruh dunia, dan menjadikannya hari raya Kristen, sekaligus hari libur sekuler.

Sesungguhnya, kalo saat ibadah Minggu hati dan roh kita udah “dibakar” Roh Kudus, rasanya ngga tepat kalo kita latah karena istilah itu sehingga “membenci hari Senin atau hari-hari berikutnya”. Kalo udah “dibakar,” artinya kita harus tetap semangat beraktivitas. Jadi, kuduskan hari sabat dan kuduskan juga hari-hari lainnya  karena kasih dan berkat-Nya hadir kapanpun dan dimanapun.

No comments