Advertising

Breaking News

Kesaksian Petra Sihombing, Selalu Andalkan Yesus

Belakangan ini wajah Petra Joshua Sihombing makin dikenal. Wajah-nya kerap nongol di layar televisi, ngga cuma sebagai penyanyi tapi juga bintang iklan. Hal itu buktiin kalo karier Petra makin bersinar. Sobat, rupaya jalan Petra menapaki dunia entertain sama sekali ngga mulus lho. Coba aja bayangin, proses pembuatan album perdananya memakan waktu sampai empat tahun. Padahal, begitu Petra selesai buat 10 lagu, ia langsung nawarin lagu-lagunya itu sama perusahaan-perusahaan rekaman.

"Salah satu produser albumku adalah Papa. Saat kami tawarkan ke label rekaman, ternyata album itu ditolak mentah-mentah. Mereka bilang lagunya terlalu anak-anak dan kurang bagus," kenangnya

Setelah mengalami penolakan sana-sini, Petra  sempat putus asa dan ingin menyerah. "Saat itu, Aku sempat  berpikir kalo lebih baik sekolah dulu. Nanti dulu deh kalo mau bikin album, karena pada saat itu aku masih 15 tahun" kenang putra pasangan Franky dan Nova Sihombing ini.

Di tengah kondisi pelik itu, cowok kelahiran Jakarta, 10 April 1992 ini ngga nyangka kalo ternyata Tuhan buka jalan, meski papanya harus jual mobil untuk produksi album lagunya. Kali ini, usaha mereka berhasil. Tahun 2010, album perdana Petra diterima oleh label rekaman. Dari pengalaman itu, Petra belajar untuk fokus dan ngga mudah menyerah. "Kalo kita fokus dalam satu hal dan tahu itu jalannya Tuhan, maka Dia akan buka jalan," ujarnya.

Sobat, ternyata sejak umur 6 tahun Petra  udah bisa main alat musik tanpa ada yang ngajarin. Petra udah bisa menabuh drum dengan rhythm yang teratur. Sejak itulah minat Petra terhadap musik semakin besar. "Sejak kecil aku udah suka banget sama musik. Waktu itu aku iseng gebuk-gebuk drum trus papa lihat dan bilang kalo rhythm-nya bagus," kenang Petra dengan masa kecilnya.

Petra_sihombing

Melihat anaknya yang jatuh cinta sama musik, Franky yang juga musisi ngga bisa berdiam diri dan ia berniat membelikan drum untuk Petra, tapi ia belum punya cukup uang. Akhirnya keinginan itu terpaksa harus ditunda. "Aku pengen punya drum, tapi Papa belum ada duit. Ya udah nabung dulu. Akhir-nya saat umurku 7 tahun, Papa beliin drum" kenangnya.

Waktu itu kondisi ekonomi keluarga Petra memang sulit. Petra dan keluarganya bahkan sempat ngerasain tinggal di rumah ukuran 5 X 5 meter dengan kamar mandi yang cuma ditutup pake kain gorden. Puji Tuhan, kira-kira 12 tahun lalu, ortu Petra akhirnya bisa punya rumah. Banyak hal yang Petra petik dari kondisi tersebut.

"Dari kecil aku diajarin Papa harus bersyukur. Kami bisa makan, itu udah bersyukur banget. Aku bisa melihat kuasa Tuhan setiap hari." Selain itu, Petra juga belajar untuk rendah hati. "Walaupun kita udah berhasil, kita harus tetep humble. Kita harus memperlihatkan Tuhan yang kita punya dari tindakan kita" katanya.

Kemampuan Petra dalam bidang musik terus diasah. "Waktu umur tujuh tahun, aku les drum selama tiga tahun. Umur dua belas tahun belajar gitar dan umur empat belas tahun belajar piano" katanya. Selain gape (jago banget) main alat musik, Petra juga jago nyiptain lagu. Semua lagu di album perdana-nya adalah hasil karangan Petra sendiri.

Melihat perjalanan keriernya yang ngga mudah, Petra merasa bersyukur sama Tuhan. Ia sadar kalo tanpa Tuhan hidupnya akan kehilangan arah. Makanya, Petra berusaha selalu dekat sama Tuhan. "Buatku kedekatan sama Tuhan itu penting banget. Tanpa Tuhan hidup kita ngga ada arahnya. Aku ngerasain baget setiap hari hidup bersama Tuhan" ujar Petra.

Petra juga bersyukur, Tuhan telah memberikan keluarga yang begitu mendukungnya. Dukungan ortunya yang sampai menjual mobil demi mewujudkan cita-citanya betul-betul membuat Petra terenyuh. Gara-gara jual mobil, papanya ke mana-mana naik sepeda motor. Melihat begitu besar pengorbanan orangtuanya, Petra janji untuk ngga ngecewain orang tuanya. Apalagi, papanya selalu tekankan agar Petra mencontoh sikap orangtuanya yang baik dan ngga mencontoh yang buruk."Aku ngga mau yang aneh-aneh. Aku juga ngga tega sama Papa, sama Mama kalau aku macam-macam"

No comments