Advertising

Breaking News

Kesaksian: Melalui Badai Kehidupan Bersama Tuhan

Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa kehidupan rumah tangga tak seindah drama korea. Banyak jalan terjal yang harus dilewati oleh sepasang sejoli yang telah bersumpah di altar untuk setia sehidup se-mati. Contohnya seperti kisah seorang Ibu bernama Wati yang harus mengalami kejamnya badai rumah tangga di umur pernikahan yang masih 4 tahun.

Saya berumur 19 tahun tepatnya di tahun 1984, saya memutuskan untuk menikah dengan suami saya yang berumur 5 tahun lebih tua dari saya. Anak pertama kami lahir di tahun 1985, seperti rumah tangga biasanya kami sering mengalami salah paham karena permasalahan sepele.

Anak kedua kami lahir di tahun 1988, saya merasa keluarga kami adalah keluarga yang ideal dan sempurna, hal itu saya rasakan karena keadaan ekonomi kami sedang berjalan baik. Setelah anak kedua kami berumur 2 tahun tepatnya tahun 1990, suami saya yang berprofesi sebagai sopir panggilan dipiketkan ke Korem, Madiun oleh Kodim. Ada 6 truk yang berangkat kesana, salah satunya dikemudikan oleh suami saya.

Dia tidak pulang selama 3 hari 3 malam. Di hari ketiga saat perjalanan pulang dengan mengendarai truk milik Kodim tersebut, terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan 6 truk dan juga beberapa motor. Truk yang dikemudikan suami saya ada di barisan ketiga. Dengan sigap dia bermaksud menghindari pengendara motor yang jatuh di kolong truk, namun naas dia malah melindas badan pengendara motor tersebut hingga hancur.

Setelah kejadian itu suami saya harus melakukan absen seminggu sekali ke madiun selama 6 bulan. Setelah kejadian tersebut suami saya berniat untuk kabur ke Kalimantan meninggalkan semua permasalahan di sini. Saya yang percaya mukjizat Tuhan masih nyata dalam kehidupan rumah tangga kami mencoba membujuk suami saya agar tetap bertanggung jawab akan kejadian itu.

penjara

Suatu hari ada petugas dari kejaksaan datang ke rumah kami dan menjemput suami saya. Saya yang hanya lulusan SD pun tidak tau kemana perginya suami saya, karena tidak pulang setelah hari itu. Tak tahan dengan kepergiannya, saya pun berinisiatif untuk pergi ke Kodim tempat suami saya dipiketkan 6 bulan yang lalu. Ternyata suami saya ditahan dan harus menjalani sidang sebanyak 5 kali.

Saya mencoba meminta bantuan kepada Kodim, namun mereka tidak mau membantu. Mereka hanya bilang kepada saya agar pergi ke lapas Madiun untuk menjenguk suami saya. Saya bertemu suami di lapas, dia berkata bahwa sidang tingal 1 kali lagi & ini adalah sidang keputusan. Terlihat jelas raut wajah putus asa di wajah suami saya, ancaman hukuman untuk suami saya sangat berat. Bisa 10 tahun penjara, bahkan hukuman mati.

Saya hanya bisa merenung dan berdoa kepada Tuhan di sepanjang perjalanan pulang dari Madiun. Hingga saat sampai di rumah, pemilik truk dari Kodim memberitahu saya agar menulis surat yang ditujukan kepada kejaksaan madiun. Saya bingung.

Dengan status saya yang hanya lulusan SD saya tidak pernah diajari menulis / bagaimana cara menbuat surat. Saya kembali bergumul kepada Tuhan.  Tuhan menuntun saya untuk menulis kalimat

”Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.”

Seterusnya saya menuliskan kronologis kejadian kecelakaan beruntun itu, dan meyakinkan jaksa bahwa memang kecelakaan itu tidak disengaja dan saya meminta keringanan untuk suami saya.

Sidang terakhir pun digelar, saya tidak hadir dalam sidang tersebut karena harus mengurus kedua anak saya dan mencari nafkah dengan menjual gorengan untuk makan sehari-hari.

Dalam sidang Jaksa berkata bahwa dia telah menerima surat dari Wlingi (tempat tinggal saya). Suami saya kaget bukan kepalang, dan bertanya-tanya siapa yang telah mengirim surat kepada Jaksa. Sidang berjalan dan Puji Tuhan, suami saya divonis 5 bulan penjara.

Saat kembali ke lapas, teman-teman suami saya berkata kepadanya bahwa jaksa yang saat itu mengambil alih sidang adalah orang kristen. Setelah mujizat itu terjadi, suami saya mulai percaya kepada Tuhan Yesus kristus dengan sepenuh hati, dan meninggalkan agama yang sejak kecil dianut-nya.  Setelah 6 bulan berlalu, suami saya bisa berkumpul kembali bersama keluarga kecil kami.

Kesaksian diatas mengingatkan kita oleh firman Tuhan dalam Yeremia 29:12

“Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;”

Percayakan segenap hidupmu kepada Tuhan, berdoalah. Sampaikan segala masalah yang kamu hadapi di dalam hidupmu. Dia mendengarkanmu.

No comments