Advertising

Breaking News

Ketika Hati Bertanya, “Apakah Mukjizat Masih Ada”?


Tidak ada satu bahasa manusia yang dapat menggambarkan betapa dahsyatnya kuasa Tuhan. Benar! Jalan pikiran-Nya sungguh tak terselami. Kata “terbatas” tidak ada dalam kamus Tuhan, Dia sungguh ajaib dan sanggup melakukan apapun. Apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi. Bahkan dari dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya tidak ada satu kuasa pun yang dapat menandingi kuasa-Nya.

Keajaiban dan kedahsyatan Tuhan kerap kali didefinisikan manusia dengan kata “mukjizat”. Secara harfiah, mukjizat adalah suatu tindakan supranatural atau diluar logika dan pikiran manusia yang memaksa mulut kita untuk berkata “wow”.

Tuhan Yesus ketika melakukan World Tour pada 2000 tahun yang lalu telah menunjukkan sederet mukjizat, mulai dari mengubah air menjadi anggur, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang buta, hingga memberi makan lima ribu orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan.

Namun itu sudah terjadi 2 abad yang lalu, di zaman now apakah mukjizat itu masih ada? Ini adalah pertanyaan retorik yang sebenarnya tidak perlu dijawab, karena satu-satunya jawaban yang dapat diberikan adalah “masih ada”. Tapi apakah mukjizat bisa didapat dengan mudah, semudah mengupas bungkus permen? Tentu saja tidak.

Pada dasarnya, mukjizat hanya dapat terjadi jika Allah menghendakinya. Jadi, selagi kita masih bergantung dan meminta mukjizat kepada-Nya, masih ada kemungkinan Dia akan mengizinkan hal itu terjadi.

Kita memang punya kuasa untuk melakukan hal-hal besar, namun bukan berarti kita dapat lepas dari Dia. Tanpa kuasa-Nya, hidup kita ibarat pohon tanpa akar. Tidak akan kuat berdiri, tidak akan berbuah dan akan mati pada waktunya.

Prinsip sederhana mengenai mukjizat ini wajib kita pahami, sehingga tidak ada lagi oknum-oknum yang memperjualbelikan mukjizat bak kacang rebus yang dapat dibeli dengan mudah. Mukjizat lebih mahal dari itu. Ada harga mahal yang harus dibayar. Mukjizat tidak murahan, dan didapat semudah mengorek upil dari hidung. Itu semua tergantung pada Allah yang memagang segala keputusan hidup ini.

Meminta mukjizat bukanlah hal yang salah, akan tetapi kita tidak boleh bergantung terus menerus kepada mukjizat, menunggu datangnya mukjizat dan melupakan apa yang menjadi tugas kita. Hidup ini harus seimbang, dimana kita harus melakukan apa yang menjadi tugas kita yakni mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia di segala kondisi.

Berdoa untuk sebuah mukjizat adalah hal yang kerap dilakukan manusia dan itu tidak salah, namun jangan marah dan kecewa kepada Tuhan jika Dia tidak mengizinkan mukjizat itu terjadi. Mengapa Dia tidak mengizinkan mukjizat? Apakah Dia setega itu?

Tuhan adalah kasih dan Dia maha bijaksana. Sungguh, tidak ada niat jahat dalam hati-Nya. Bayangkan saja, jika dalam hidup ini kita mendapatkan mukjizat terus menerus, kita (manusia) akan menjadi pribadi yang manja dan egois, pribadi yang hanya menuntut tanpa memperjuangkan sesuatu.

Sebaliknya, Tuhan menciptakan kita sebagai pahlawan-pahlawan yang kuat dan kebal terhadap masalah dan persoalan hidup ini. Pedang tidak akan pernah tajam jika tidak melewati proses penempaan, begitu pun dengan kita.

Kita menemukan satu titik bahwa mukjizat bukanlah jalan keluar satu-satunya dari masalah yang kita hadapi. Bersama dengan Tuhan, kita harus berani berjuang dan melewati setiap proses yang ada.

Paulus di akhir hidupnya mengalami sakit yang cukup parah. Tak henti-hentinya, Paulus meminta mukjizat kesembuhan kepada Tuhan. Namun, Tuhan tidak memberinya mukjizat. Padahal, Paulus adalah salah satu rasul dan pendoa yang hebat, ada banyak orang sakit yang telah ia doakan dan mengalami kesembuhan. Akan tetapi, Tuhan malah tidak memberi mukjizat kepada Paulus, atau dengan kata lain Dia berkata “tidak” terhadap doa Paulus.

Menariknya, Di kondisi seperti itu Paulus tidak bersungut-sungut, sebaliknya Dia bersyukur. “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna’. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

Heroes, kita sekalian layak untuk menerima mukjizat-Nya, namun Dia memberkati dan menolong kita tidak hanya melalui mukjizat, Dia punya 1001 cara yang ajaib. Jadi, jika kamu tidak melihat mukjizat, maka jadilah mukjizat untuk dunia dan orang lain, melalui cara hidupmu dan imanmu kepada Tuhan.

No comments