Advertising

Breaking News

Mencintai Tanpa Melakukan Perintah-Nya adalah Cinta yang Palsu


“Bapa aku benar-benar mencintaimu, seluruh hidupku hanya untukmu”. Mungkin kalimat itu kerap kali kita ucapkan ketika berdoa kepada Tuhan. Itu sungguh indah, namun apa jadinya jika kita hanya berucap tanpa membuktikan cinta kita kepada-Nya? Bukankah itu seperti emas palsu? Ya! tampak indah namun tidak memiliki nilai ataupun harga.

Bukankah ketika kita berani mengucapkan kata “cinta” kepada-Nya itu artinya kita harus siap mematuhi perintah-Nya? Sebaliknya, jika hidup kita saja masih seringkali diisi dengan dosa, dosa dan dosa, lantas apa definisi sebenarnya dari kata “cinta” itu?

Jauh sebelum kita mengasihi-Nya, Dia sudah lebih dulu mengasihi kita. Kasih-Nya memang tidak pandang bulu alias berlaku untuk semua orang. Meski begitu, bagaimana dengan kita yang telah mengerti kebenaran bahkan telah mentahbiskan diri sebagai “kekasih Tuhan” namun masih melakukan dosa secara sengaja, bukankah itu mengkhianati Tuhan?

Apa bedanya kita dengan Yudas yang menjual Yesus dengan 30 keping perak? Sebagaimana yang tertulis dalam Ibrani 10: 26-27, “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.”

Heroes, jangan pernah main-main dengan kata cinta, sebab jika kita mencintai maka kita harus menaruh iman dan kepercayaan sepenuhnya kepada orang yang kita cintai, dalam hal ini adalah Tuhan.

Mengikut Tuhan dan menaati setiap perintah-Nya memang tak seenak “burger McDonald”, ada banyak rintangan dan halangan yang berusaha mengganggu langkah kita dalam membuktikan rasa cinta kita kepada-Nya. Namun, jika kita cinta bukankah seharusnya kita rela berjuang dan berkorban seperti halnya Dia yang telah berkorban untuk kita? Bukankah kita juga harus memikul salib-Nya?

Luka cambukan dan bekas paku yang menancap di tubuh Yesus masih membekas hingga saat ini. Mungkin itu akan menjadi luka abadi yang tak akan pernah terlupakan. Oleh sebab itu, kita harus mengutamakan Dia dalam segala hal, mencintai-Nya dengan sungguh-sungguh dan melakukan setiap perintah-Nya. Sebab, asuransi kehidupan yang Dia berikan sungguh indah.

Seseorang mungkin bisa memberimu cokelat, bunga atau bahkan perhiasan. Namun akan tiba masanya dimana cokelat akan lumer, bunga akan layu dan perhiasan akan memudar. Di sisi lain ada satu pribadi yang mungkin tidak memberimu barang secara langsung, namun Dia rela mati bagimu untuk memberikan sebuah jaminan kehidupan yang kekal. Lewat pertumpahan darah-Nya lah hidupmu diselamatkan. Itulah yang disebut cinta sejati, cinta yang kekal dan cinta yang tak terbatas.

Kesimpulan:

Jangan pernah mencintai-Nya, jika kamu enggan mematuhi perintah-Nya! Berusaha lah sekuat tenaga untuk menjadi pribadi lebih baik dan sempurna seperti Dia. Cobalah untuk mengerti isi hati Tuhan, bayangkan apa yang Dia rasakan ketika melihat “orang yang berkata mencintai-Nya justru tidak melakukan perintah-Nya”.

Cintai Dia lebih dalam lagi dan buktikan cinta itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Undang Dia untuk selalu memimpin hidupmu. Jadilah sempurna seperti Bapa kita yang sempurna! Ingat, Actions speak louder than words. Ya! Perbuatan jauh lebih berarti dari kata-kata.

No comments